Kecepatan Pertumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes)

 

“ Kecepatan Pertumbuhan  Eceng Gondok (Eichornia crassipes) ”

Oleh : rony al afgani, sp

Tuesday, January 21, 2025

 

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tanaman yang keberadaannya sudah lama hidup di perairan Indonesia. Tumbuhan air ini berasal dari perairan hutan amazon yang dibawa oleh seorang ilmuan bernama Carl Friedrich Philipp Von Matius yang merupakan ahli botani berasal dari Negara Jerman (Wikipedia, 2024). Kemudian pertama kali diintroduksikan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) pada tahun 1894 di Kebun Raya Bogor. Awalnya tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan hias yang cantik. Mobilisasinya terus berkembang dari aliran sungai ciliwung sampai menyebar ke seluruh sungai di Indonesia.  Sampai saat ini keberadaan populasi Eceng Gondok (Eichornia crassipes) terutama di perairan dangkal Indonesia semakin tinggi pertumbuhan dan perkembangannya.  Namun disatu sisi penanganan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) perlu dipahami kembali terkait pengelolaannya dan manfaatnya untuk kehidupan manusia. Oleh karena itu menjadi penting mengetahui manfaat dan dampak negative dari keberadaan enceng gondok yang sudah tumbuh menyebar dan merata di wilayah perairan Indonesia terutama di Pulau Jawa.


Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan yang hidup dengan kondisi habitat berair. Tumbuhan tersebut biasanya mengambang diatas permukaan air karena pada bagian tubuhnya berbentuk gelembung yang berguna sebagai pelampung.  Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) hidup pada habitat sungai, rawa, kolam, dan biasanya akan tumbuh subur pada kondisi air tenang dan dangkal. Eceng Gondok (Eichornia crassipes) tumbuh optimal pada perairan dangkal, keruh, dengan suhu ideal 28 s.d. 300C, mampu hidup pada kondisi pH 4 sampai 12.  Eceng Gondok (Eichornia crassipes) mengalami penghambatan pertumbuhan pada kondisi air dalam dan bening (Sartika Tobing & Hayati Harahap, 2024). Oleh karena itu semakin tinggi sedimentasi dan polutan dalam kandungan air maka pertumbuhan semakin cepat dan berkembang.

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan yang mempunyai klasifikasi ilmiah yang merupakan Kerjaan Plantae; Ordo Commelinales; Famili Pontederiaceae; Genus Pontederia; Species Pontederia crassipes (Wikipedia, 2024) atau mempunyai nama lain yaitu Eichhornia crassipes.

Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) mempunyai ukuran sekitar 0,4 sampai 0,8 meter, tidak mempunyai batang, berdaun tunggal berbentuk oval, ujung dan pangkal daunnya meruncing, pangkal tangkai daun menggembung, permukaan daunnya seperti dilapisi lilin licin dan mengkilap berwarna hijau tua sampai hijau muda, berbunga majemuk dengan warna bunga biru putih, bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam, dengan buah yang mempunyai ruang berjumlah tiga buah berwarna hijau. Akar tumbuhan  merupakan akar serabut berwarna coklat sampai hitam seperti serabut tipis.  

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) menyebar secara vegetatif dengan mengunakan stolon. Pertumbuhan  sampai dewasa memerlukan waktu sekitar 11 sampai 18 hari. Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dapat meningkat populasinya menjadi 100 % dalam waktu lima hari (Moningkey et al., 2021).  Satu Rumpun Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dengan berat 160 gram dalam waktu 21 hari mampu tumbuh dengan luasan 1 m2 (Prasetyo et al., 2022).

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan yang mempunyai tingkat reproduksi yang cepat sehingga dalam beberapa hari saja tumbuhan ini mampu menutup permukaan air dan menyebabkan dampak negative terhadap keseimbangan ekosistem terutama biota dalam sungai. Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Mampu berduplikasi menghasilkan dua pucuk dalam waktu tujuh hari sampai delapan hari (Hearttiana et al., 2024).

Kecepatan pertumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dipengaruhi oleh kandungn nutrisi terlarut. Kecepatan pertumbuhan yang tinggi diakibatkan karena proporsi tinggi kandungan Nitrogen, Fosfor, dan Kalium yang terlarut dalam air. Kondisi  tiga unsur tersebut dalam kandungan kisaran nitrogen 6,11 sampai 5,2 g/kg, phosphor, 0,52 sampai 0,88 g/kg, dan kandungan kalium 1,43 sampai 2,61 g/kg mempunyai kecepatan pertumbuhan  0,3048 meter per hari (Nwamo et al., 2024).  Kandungan hara tersebut dapat berasal dari antropogenik sehingga terakumulasi pada air dari sumber pencemaran seperti residu pestisida, deterjen, dan bahan pencemar lainnya yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkemabangan tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes).  

Kelebihan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) diantaranya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organic, bahan pembuatan briket batubara, pakan dengan hara protein tinggi yang digunakan untuk ternak, bahkan tumbuhan ini dapat digunakan juga sebagai penetralisir logam logam berat berbahaya yang terlarut dalam air atau dapat dikatakan bahwa tanaman Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan yang mempunyai kemampuan sebagai fitoremediasi atau dengan sebutan hiperakumulator.

Tanaman yang mempunyai hyperakumulator dalam fusngsinya sebagai fitoremediasi melakukan beberapa cara diantaranya adalah dengan system fitoekstraksi, fitovolatisasi, fitodegradasi, fitostabilisasi, dan Rhizofiltrasi (Koko et al, 2020).  Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan yang mempunyai kemampuan dalam system Rhizofiltrasi (Ulfah, et al, 2010). Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) mampu menyerap logam berat berbahaya seperti Timbal (Pb), cadmium (Cd), Merkuri (Hg) dengan mengunakan akar yang mengandung fitokelatin yang dapat mengikat beberapa logam berat tersebut (Widyasari, 2021) selain  itu Eceng Gondok (Eichornia crassipes)  mengandung senyawa metabolit sekunder yang bergguna bagi duani kesehatan diantaranya adalah senyawa steroid, tannin, dan flavonoid (Wijaya et al., 2015)  sehingga banyak sekali manfaat Eceng Gondok (Eichornia crassipes) tersebut bagi kehidupan manusia.

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) selain mempunyai sisi manfaat ternyata mempunyai kekurangan diantaranya karena tumbuhan tersebut hidup disekitar perairan yang dapat mengganggu ekosistem perairan baik secara langsung ataupun tidak langsung.  Tumbuhan tersebut dikenal sebagai tumbuhan yang hidup tidak diinginkan oleh manusia dengan nama lain disebut sebagai gulma.

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dapat tumbuh dengan subur pada sekitar perairan sungai yang mengakibatkan beberapa dampak negative terutama dalam penurunan kualitas air, menghambat mobilisasi, mempertinggi pendangkalan atau sedimentasi, mengurangi cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga beberapa biota air terhambat pertumbuhannya, meningkatkan evavorasi atau penguapan, dan mengurangi tingkat kelarutan oksigen yang terkandung dalam air. Oleh karena itu Eceng Gondok (Eichornia crassipes) yang tumbuh tidak terkendali dapat menjadi perusak ekosistem alami (Sartika Tobing & Hayati Harahap, 2024).

Eceng Gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan yang masuk dalam invasive species atau alien species. Keberadaannya bukan merupakan tumbuhan endemik dari Indonesia namun mengalamu perkembangan yang dominan dan merata di seluruh perairan Indonesia terutama Sungai di Indonesia. Oleh karena itu dalam melakukan penangananya dibutuhkan konsistensi dan beberapa usaha terpadu lainnya baik dari pemerintah ataupun dari pihak lain yang lebih concern terhadap upaya penanggulangan gulma Eceng Gondok (Eichornia crassipes). Beberapa usaha diantaranya adalah membuat regulasi dalam bentuk peraturan atau undang undang atau perda tentang zonasi tata ruang dan membuat rencana pengendalian dengan mengalokasikan anggran rutin setiap tahun dalam menanggulangi populasi gulma (Moningkey et al., 2021).

 

Daftar Pustaka

 

Hearttiana, S. Y., Yamin, M., & Putri, N. E. (2024). Optimalisasi Lahan Sempit dan Pemanfaatan Limbah Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dalam Program Zero Waste. 9(1), 190–196.

Moningkey, G. S., Andaki, J. A., Dien, C. R., Jusuf, N., Rarung, L. K., & Moningkey, R. D. (2021). Evaluasi Pengendalian Eceng Gondok (Eichornia crassipes) (Eichornia Crassipes) Di Danau Tondano Kabupaten Minahasa Dalam Masa Pandemi Covid-19. AKULTURASI_jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan, 9(1), 65–77. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/akulturasi

Nwamo, R. D., Ajonina, G. N., Kopmou, T. C. Y., Ewoukem, T. E., & Eyango, M. T. (2024). Evaluation of Growth Rate of Invasive Aquatic Macrophytes and Contribution to Its Use in Organic Fertilizer Production: A Case of Eicchornia crassipes (Mart.) Solms, 1883 in the Lobé Creek (Littoral-Cameroon). Open Journal of Ecology, 14(07), 571–583. https://doi.org/10.4236/oje.2024.147033

Prasetyo, S., Anggoro, S., & Soeprobowati, T. R. (2022). Water hyacinth Eichhornia crassipes (Mart) Solms management in Rawapening Lake, Central Java. AACL Bioflux, 15(1), 532–543.

Sartika Tobing, N., & Hayati Harahap, R. (2024). Dampak Adanya Pertumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dalam Skala Besar Terhadap Ekosistem di Kawasan Danau Toba. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 5(2), 225–234. https://doi.org/10.56552/jisipol.v5i2.133

Widyasari, N. L. (2021). Kajian Tanaman Hiperakumulator Pada Teknik Remediasi Lahan Tercemar Logam Berat. Jurnal Ecocentrism, 1(1), 17–24. https://doi.org/10.36733/jeco.v1i1.1748

Wijaya, D., Yanti, P. P., A, R. S., Rizal, M., & A, R. S. (2015). Screening Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Daun Eceng Gondok (Eichornia crassipes) (Eichhornia crassipes). Jurnal Kimia VALENSI, 1(1), 65–69. https://doi.org/10.15408/jkv.v0i0.4965

Wikipedia. 2024. Eceng Gondok. https://id.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok. diakses 21 Januari 2024.

 

 

Komentar