Manis javanica (Trengiling Jawa) Satwa Dilindungi UU.No.32 Tahun 2024

 

Trengiling Sunda (Manis javanica) merupakan salah satu hewan langka yang dilindungi di Indonesia. Populasi yang semakin menurun dan habitat yang mengalami fragmentasi menjadikan satwa tersebut dilindungi baik secara International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora  (CITES). Beberapa penyebab berkurangnya populasi trengiling adalah pemburuan liar di alam diantaranya karena pemburuan liar dan minat masyarakat yang menjadikan bagian bagian tubuh trengiling merupakan sebuah hal yang eklusif. Populasi trengiling dalam 21 tahun terakhir mengalami penurunan populasi sebanyak 80% (Khairunnisa & Yuono, 2022) dan 95% merupakan hasil tangkapan di alam secara langsung (Khairi & Andora, 2024)

Sumber : ronyalafgani (2024)
Keberadaan satwa trengiling (Manis javanica) memegang peranan penting di alam dalam rantai atau siklus ekosistem. Keberadaan trengiling mampu menjaga beberapa spesies tumbuhan di hutan dari kepunahan.  Trengiling biasanya melakukan aktifitas menggali tanah dan membantu mengurangi serangga hama yang dapat berakibat terjadinya lonjakan populasi hama di hutan. Aktifitas menggali tanah yang dilakukan oleh trengiling membantu mengemburkan tanah sekaligus memperkaya sirkulasi udara dan oksigen didalamnya, Oleh karean itu keberadaan trengling di alam sangat penting.

Pemerintah mengeluarkan undang undang No.05 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, dan Peraturan Pemerintah No. 07 Tahun 1999 tentang pengawetan satwa liar merupakan usaha pemerintah dalam melindungi satwa tersebut. Dalam peraturan tersebut sudah sangat jelas sangsi yang dapat dijatuhkan kepada masyarakat yang berburu izin. Sangsi pidana berupa kurugan penjara selama 5 tahun dan denda maksimal 100 juta rupiah. Namun pada kenyataanya masih terjadi terus menerus perburuan satwa trengiling di alam. Oleh karena itu salah satu upaya penyadartahuan kepada masyarakat adalam memberikan informasi tentang satwa dilindungi sehingga masyarakat paham dan mampu melakukan tindakan dalam membantu mengatwetkan satwa dilindungi oleh negara. 

Trengiling (Manis javanica) mempunyai ciri khusus yaitu tubuh yang dilapisi sisik dengan bentuk mulut yang menyerupai moncong. Trengiling mempunyai delapan spesies didunia, diantaranya di benua asia dan afrika (www.mongabay.co.id, 2017).  Empat jenis trengiling di asia diantaranya adalah Manis crassicaudata, Manis culionensis, Manis Javanica, dan Manis pentadacyla. Empat jenis di afrika diantaranya adalah Manis tricuspis, Manis gigantean, Manis temminckii, dan Manis tetradactyla. Salah satunya merupakan trengiling asia yaitu (Manis javanika) yang hidup di Indonesia. Panjang tubuh trengiling dapat mencapai ukuran 45 cm, berat 2 kg, sisik terbuat dari bahan keratin berupa cangkang yang mempunyai berat 20% dari tubuhnya (www.wwf.id, 2024). Tubuh trengiling mampu mengulung dan mengeluarkan bau tidak sedap ketika merasa terancam, orang jawa barat menyebutnya “bau peusing” peusing di jawa Barat merupakan sebutan lain dari trengling jawa (Manis javanica). Trengiling mempunyai kuku sejumlah lima buah yang lama kelamaan memanjang. Kuku berwarna hitam dan digunakan untuk menggali pohon atau tanah ketika trengiling mencari makanan di hutan. Kuku depan ukurannya lebih panjang dibandingkan ukuran kuku kanan dan kirinya. Disetiap sela kanan dan kiri sisik, setiap sisik terdapat bulu yang keluar melebihi ukuran sisik. Bulu berwarna putih kekuningan dari pangkal kepala sampai ujung ekor. Trengiling merupakan satwa yang mempunyai keunikan biologi, tidak mempunyai gigi dan lidanya memiliki panjang 42% dari panjang badan (Mariana Takandjandji & Reny Sawitri, 2023). Dalam menggiling atau mengunyah makanannya trengiling  menggunakan kerikil dan duri keratin didalam perutnya (www.mongabay.co.id, 2017).   

Satwa trengiling (Manis javanica) merupakan satwa liar yang beraktivitas di malam hari (Nokturnal), pada umumnya satwa trengiling akan berlindung dilubang bawah tanah atau lubang pohon yang lapuk pada siang hari. Trengiling akan mengulung ketika dipegang atau dalam kondisi terancam untuk melarika diri dari serangan pemangsa.

Salah satu yang menyebabkan populasi trengiling makin menurun populasinya adalah karena trengiling mempunyai habitat dan pakan yans spesifik. Habitat berupa hutan sekunder yang cenderung memiliki pakan yang berlimpah baik semut ataupun rayap. Trengiling merupakan satwa yang relative lambat berkembangbiak. Sehingga hanya dua jenis pakan yang disenangi oleh trengiling.  Trengiling membuat sarang pada tanah yang gembur. Ukuran lebar sarang terkecil berukuran 28,64cm dan terpanjang dengan lebar 44,67cm (Studi et al., 2023).  Sarang trengiling mempunyai dua jenis sarang yang digunakan untuk mencari makan dan tempat hidupnya. Ukuran sarang yang digunakan untuk tempat hidupnya rerata lebih besar dan lebih dalam dibandingkan lubang yang digunakan trengiling untuk mencari mangsa.  Lubang yang digunakan untuk mencari mangsa biasanya terdapat koloni semut atau rayap.

Alasan perburuan dan perdagangan trengiling diantaranya adalah bagian trengiling mempunyai nilai yang sacral untuk ritual budaya, daginggnya digunakan oleh masyarakat tertentu,  dan sisik trengiling digunakan sebagai bahan obat ampuh. Berdasarkan hasil penelitian tentang sisik trengiling didapatkan bahwa kandungan sisik trengiling dibandingkan dagingnya mempunyai beberapa unsur penting diantaranya adalah kandungan protein, kalsium, fosfor, asam-asam amino esensial, EPA ,dan DHA (Farida, W. , 2009).


 Daftar Pustaka

 

Khairi, F. A., & Andora, H. (2024). Pengawasan Perdagangan Ilegal Terhadap Trenggiling oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat. 6(3), 9148–9171.

Khairunnisa, N. A., & Yuono, D. (2022). Pendekatan Perilaku Trenggiling Sunda Dalam Perancangan Pusat Konservasi. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), 3(2), 2463. https://doi.org/10.24912/stupa.v3i2.12449

Mariana Takandjandji, & Reny Sawitri. (2023). Manis javanica, Nasibmu Tidak Semanis Namamu. Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia Dan Memahami Pelestariannya, 113–126. https://doi.org/10.55981/brin.602.c622

Studi, P., Biodiversitas, K., & Dramaga, R. (2023). Karakteristik Biofisik Sarang Trenggiling (. 20, 45–60.

 

Komentar