Trengiling Sunda (Manis javanica)
merupakan salah satu hewan langka yang dilindungi di Indonesia. Populasi yang
semakin menurun dan habitat yang mengalami fragmentasi menjadikan satwa
tersebut dilindungi baik secara International
Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna
and Flora (CITES). Beberapa penyebab
berkurangnya populasi trengiling adalah pemburuan liar di alam diantaranya
karena pemburuan liar dan minat masyarakat yang menjadikan bagian bagian tubuh
trengiling merupakan sebuah hal yang eklusif. Populasi trengiling dalam 21
tahun terakhir mengalami penurunan populasi sebanyak 80% (Khairunnisa & Yuono, 2022) dan 95%
merupakan hasil tangkapan di alam secara langsung (Khairi & Andora, 2024)
Pemerintah mengeluarkan undang undang No.05 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, dan Peraturan Pemerintah No. 07 Tahun 1999 tentang pengawetan satwa liar merupakan usaha pemerintah dalam melindungi satwa tersebut. Dalam peraturan tersebut sudah sangat jelas sangsi yang dapat dijatuhkan kepada masyarakat yang berburu izin. Sangsi pidana berupa kurugan penjara selama 5 tahun dan denda maksimal 100 juta rupiah. Namun pada kenyataanya masih terjadi terus menerus perburuan satwa trengiling di alam. Oleh karena itu salah satu upaya penyadartahuan kepada masyarakat adalam memberikan informasi tentang satwa dilindungi sehingga masyarakat paham dan mampu melakukan tindakan dalam membantu mengatwetkan satwa dilindungi oleh negara.
Trengiling
(Manis javanica) mempunyai ciri khusus yaitu tubuh yang dilapisi sisik dengan
bentuk mulut yang menyerupai moncong. Trengiling mempunyai delapan spesies
didunia, diantaranya di benua asia dan afrika (www.mongabay.co.id, 2017). Empat jenis trengiling di
asia diantaranya adalah Manis crassicaudata, Manis culionensis, Manis Javanica,
dan Manis pentadacyla. Empat jenis di afrika diantaranya adalah Manis
tricuspis, Manis gigantean, Manis temminckii, dan Manis tetradactyla. Salah satunya
merupakan trengiling asia yaitu (Manis javanika) yang hidup di Indonesia. Panjang
tubuh trengiling dapat mencapai ukuran 45 cm, berat 2 kg, sisik terbuat dari
bahan keratin berupa cangkang yang mempunyai berat 20% dari tubuhnya (www.wwf.id, 2024). Tubuh trengiling mampu
mengulung dan mengeluarkan bau tidak sedap ketika merasa terancam, orang jawa
barat menyebutnya “bau peusing” peusing di jawa Barat merupakan sebutan lain
dari trengling jawa (Manis javanica). Trengiling mempunyai kuku sejumlah lima
buah yang lama kelamaan memanjang. Kuku berwarna hitam dan digunakan untuk
menggali pohon atau tanah ketika trengiling mencari makanan di hutan. Kuku
depan ukurannya lebih panjang dibandingkan ukuran kuku kanan dan kirinya. Disetiap
sela kanan dan kiri sisik, setiap sisik terdapat bulu yang keluar melebihi
ukuran sisik. Bulu berwarna putih kekuningan dari pangkal kepala sampai ujung
ekor. Trengiling merupakan satwa yang mempunyai keunikan biologi, tidak
mempunyai gigi dan lidanya memiliki panjang 42% dari panjang badan (Mariana
Takandjandji & Reny Sawitri, 2023). Dalam menggiling atau mengunyah
makanannya trengiling menggunakan
kerikil dan duri keratin didalam perutnya (www.mongabay.co.id, 2017).
Satwa
trengiling (Manis javanica) merupakan satwa liar yang beraktivitas di malam
hari (Nokturnal), pada umumnya satwa trengiling akan berlindung dilubang bawah
tanah atau lubang pohon yang lapuk pada siang hari. Trengiling akan mengulung
ketika dipegang atau dalam kondisi terancam untuk melarika diri dari serangan
pemangsa.
Salah satu yang menyebabkan populasi trengiling makin menurun populasinya adalah karena trengiling mempunyai habitat dan pakan yans spesifik. Habitat berupa hutan sekunder yang cenderung memiliki pakan yang berlimpah baik semut ataupun rayap. Trengiling merupakan satwa yang relative lambat berkembangbiak. Sehingga hanya dua jenis pakan yang disenangi oleh trengiling. Trengiling membuat sarang pada tanah yang gembur. Ukuran lebar sarang terkecil berukuran 28,64cm dan terpanjang dengan lebar 44,67cm (Studi et al., 2023). Sarang trengiling mempunyai dua jenis sarang yang digunakan untuk mencari makan dan tempat hidupnya. Ukuran sarang yang digunakan untuk tempat hidupnya rerata lebih besar dan lebih dalam dibandingkan lubang yang digunakan trengiling untuk mencari mangsa. Lubang yang digunakan untuk mencari mangsa biasanya terdapat koloni semut atau rayap.
Alasan
perburuan dan perdagangan trengiling diantaranya adalah bagian trengiling
mempunyai nilai yang sacral untuk ritual budaya, daginggnya digunakan oleh
masyarakat tertentu, dan sisik
trengiling digunakan sebagai bahan obat ampuh. Berdasarkan hasil penelitian
tentang sisik trengiling didapatkan bahwa kandungan sisik trengiling dibandingkan
dagingnya mempunyai beberapa unsur penting diantaranya adalah kandungan
protein, kalsium, fosfor, asam-asam amino esensial, EPA ,dan DHA (Farida, W. , 2009).
Khairi,
F. A., & Andora, H. (2024). Pengawasan Perdagangan Ilegal Terhadap
Trenggiling oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat. 6(3),
9148–9171.
Khairunnisa,
N. A., & Yuono, D. (2022). Pendekatan Perilaku Trenggiling Sunda Dalam
Perancangan Pusat Konservasi. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan,
Arsitektur (Stupa), 3(2), 2463.
https://doi.org/10.24912/stupa.v3i2.12449
Mariana
Takandjandji, & Reny Sawitri. (2023). Manis javanica, Nasibmu Tidak Semanis
Namamu. Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia Dan Memahami
Pelestariannya, 113–126. https://doi.org/10.55981/brin.602.c622
Studi,
P., Biodiversitas, K., & Dramaga, R. (2023). Karakteristik Biofisik
Sarang Trenggiling (. 20, 45–60.

Komentar
Posting Komentar