Burung Jalak Bali (Leucopsar lothschildi)
Oleh : RONY AL AFGANI, S.P.
Monday, December 16, 2024
Jalak
bali (Leucopsar lothschildi) atau curak bali atau nama lain Bali Myna
(UICN, 2024) merupakan burung yang dilindungi oleh Negara Indonesia dan lembaga
internasional baik IUCN dan CITES. Jalak bali mempunyai kicauan yang cukup
lantang dengan warna yang cukup cantik. Banyak penghobi burung saat ini
mengawetkan burung tersebut karena penggemar dan minat hobi semakin tinggi. Namun
disatu sisi banyak juga tingginya
peredaran satwa illegal terjadi. Warna putih yang kontras dengan jmabul putih
menambah minat penggemar burung untuk memelihara, ditambah dengan sifat jalak
bali yang adaftif sehingga burung jalak bali nyaman dipelihara oleh pengobi.
Burung
jalak bali (Leucopsar lothchildi) memerlukan perhatian khusus dari pemerintah
dan masyarakat karena burung tersebut
mengalami penurunan populasi. Di tempat asalnya jalak bali hanya hidup beberapa
pasang saja akibat tingginya perburuan liar. Apabila populasi jalak bali
semakin menurun dikhawatrikan akan menimbulkan bencana terhadap lingkungan. Oleh karena itu jalak bali sebagai burung
endemik Indonesia perlu terus dilakukan upaya perbanyakan melalui penangkaran
dan pengawasan yang ketat terhadap populasinya.
Jalak
Bali (leucopsar lotchildi) masuk dalam jenis satwa yang dilindungi oleh Negara.
Pada permenhut No. 106 Tahun 2018 tercantum bahwa burung tersebut. Selain itu
lembaga internasional seperti IUCN dan CITES mengkategorikan burung tersebut
merupakan burung yang perlu diperhatikan kondisi perlindungan dan peredarannya.
Burung jalak bali menurut CITES masuk dalam kategori Critiically Endangered Species merupakan tingkat lebih tinggi dari Endangered species . Menurut daftar
perdagangan internasional dalam hal ini adalan CITES, Jalak Bali merupakan
kategori Apendik I yang artinya burung tersebut tidak dapat diperjualbelikan
keluar wilayah Indonesia dan hanya presiden yang dapat memberikan izin
tersebut. Artinya Jalak bali sudah semakin langka dan usaha pengawetan harus
lebih ditingkatkan kembali.
Jalak Bali (Leocopsar lotchildi) mempunyai
ukuran tubuh sekitar 20 s.d 25 cm. Memiliki warna yang mencolok terutama
dominasi warna putih. Pada daerah sekitar paruh warna biru mencolok. Jambul
berwarna putih diatas kepala tertata rapih. Warna tungkai kaki berwarna biru
keputihan. Pada bagian pangkal sayap terdapat warna hitam. Bulu jalak bali 90%
berwarna putih, ujung sayap berwarna hitam dengan lebar sekitar 25mm, pelupuk
mata berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing dengan panjang
2-3cm, bagian ujungnya berwarna kuning kecoklatan, rahangnya berwarna abu-abu
kehitaman, berat badan 107,75gram, jumlah bulu sayap 11-12 helai, dan jumlah
bulu ekor 17-18 helai (Wikipedia, 2024).
Jalak
bali tergolong satwa monogamous yaitu hanya memiliki satu pasangan salam satu
musim kawin, sex rasio hanya 1:1 dan umur proses kawin 7 sampai 9 bulan dengan
jumlah telur maksimal sebanyak 3 butir dierami sekitar 16 hari oleh indukan.
Perkawinan jalak bali sepanjang tahun, menetas selama 14 hari setelah anaknya
berusia 4 sampai 5 minggu kemudian jalak bali akan kembali bertelur. Ukuran
betina lebih bulat dan kecil dibandingkan dengan jantan.
Jalak
Bali (Leocopsar lotchildi) dalam
melakukan perekembangbiakan tidak mampu membuat sarang sendiri. Burung tersebut
mencari lubang alami yang berada pada pohon tertentu atau bersarang pada sarang
buatan yang dibuat manusia. Dapat dilihat pada dua gambar dibawah ini tempat
bersarang dari jalak bali. Pohon yang
digunakan untuk melakukan aktivitas perkembangbiakan merupakan jenis pohon
pohon tertentu, diantaranya adalah pohon Jati (Tectona grandis), Kesambi
(Schleichera oleosa), Timoho (Kleinhovia hospital), Jambu Air (Syzygium
aqueum), Ancar (Myrtaceae), dan Bunut (Ficus glabella) (Riany & Aunurohim, 2013).
Jalak
Bali (Leocopsar lotchildi) mempunyai
sifat yang lebih adaftif/ lebih mudah menyesuaiakan dengan manusia oleh karena
itu jalak bali mudah ditangkap sehingga dampaknya menyebabkan penurunan jumlah
populasi. Aktivitivitas jalak bali tidak terlalu agresif apabila dibandingkan
dengan jalak kebo. Jalak bali cenderung lebih pasif dalam pergerakannya. Jalak bali melakukan banyak aktivitas
diantaranya adalah prilaku social tertinggi dan terendah. Prilaku social tertinggi
diantaranya adalah saling bersuara, saling mendekati anakan, memberi makan
anakan, dan saling menelisik bulu sedangkan prilaku social terendah adalah
prilaku saling mengejar, dan
membersihkan paruh indukan. Prilaku mendekati anakan biasanya dilakukan oleh
indukan betina sebesar 275,78 %
dibandingkan prilaku mendekati anakan yang dilakukan oleh burung jalak bali
jantan yang hanya 20, 33% (Belantara, 2019).
Jalak Bali (Leocopsar lotchildi) mempunyai
predator terutama di habitat pepohonan selain manusia yang merupakan predator
utama dalam pemburuan jalak bali. Satwa predator jalak bali cenderung dimangsa
oleh ular dan biawak (Wikipedia, 2024). Akibat aktivitasnya cukup lamban maka
burung jalak bali lebih mudah dimangsa predator.
Jalak Bali (Leucopsar lotchildi) merupakan
burung asli Indonesia. Keberadaan burung tersebut hanya berada di Provinsi Bali
sebelah barat. Menurut Wikipedia (2024) penemuan pertama kali pada tahun 1910
oleh peneliti dari eropa. Karena habitanya terbatas maka jalak bali cenderung
mengalami penurunan populasi karena habitanya terbatas. Namun pada realitasnya
sampai saat ini melalui usah pengawetan, burung jalak bali banyak ditemukan
diluar bali barat. Jalak bali lebih adaftif dan mudah dalam mengembangbiakannya.
Jalak
bali merupakan satwa golongan aves yang memiliki peran penting terutama dalam
system ekosistem hutan. Menyeimbangkan beberapa jumlah hama berupa serangga,
membantu penyebaran biji, penyerbukan tanaman, dan fecesnya dapat bereaksi
dengan tanah sebagai pupuk. Jalak bali memakan serangga ataupun larva dari ordo
Lepidoptera atau lain jenisnya yang dapat merusak daun tanaman dan mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan tanaman huta. Peran jalak bali dalam penyebaran
biji dapat meningkatkan sebaran beberapa jenis atau species tertentu di hutan
sehingga spesies tumbuhan tetap terjaga.
Salah
satu upaya pengawetan adalah dengan usaha penangkaran. Jalak bali yang
ditangkarkan kemudian dengan jumlah tertentu kembali dilepasliarkan pada
habitat aslinya. Mekanisme penangkaran atau usaha pengawetan tersebut sudah
termuat dalam Permenlhk. No 07 Tahun 1999 tentang Pengawetan satwa liar. Dengan
adanya pengawetan diharapkan tingkat kepunahan polulasi di alam semakin
berkurang dan keberadaan spesies Jalak bali tetap eksis di hutan Bali.
VII. Daftar Pustaka
Belantara, J. (2019). PERILAKU SOSIAL JALAK BALI (
Leucopsar Rothschildi Stresemann 1912 ) DI KANDANG PERKEMBANGBIAKAN UNIT
PENGELOLAAN KHUSUS PEMBINAAN JALAK BALI TEGAL BUNDER TAMAN NASIONAL BALI BARAT
Social Behavior Jalak Bali ( Leucopsar Rothschildi Stresemann 1912 ) at Sp.
2(1), 10–16.
Riany, C. F., & Aunurohim. (2013). Populasi Burung Jalak
Bali (Leucopsar rothschildi, Stresemann 1912) Hasil Pelepasliaran di Desa Ped
dan Hutan Tembeling Pulau Nusa Penida, Bali. Jurnal Sains Dan Seni POMITS,
2(2), 186–190. http://www.ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/view/4056
Komentar
Posting Komentar